AI Bikin Coding Makin Cepat dan Seru, Tapi Bikin Orang Kelelahan

Ledakan penggunaan agen AI untuk menulis kode sering digambarkan sebagai jalan pintas menuju efisiensi. Namun pengalaman intensif seorang jurnalis teknologi yang menghabiskan dua bulan hidupnya bersama berbagai agen AI justru menunjukkan sisi lain yang jarang dibahas: alih-alih membuat pekerjaan lebih ringan, alat ini bisa membuat manusia semakin sibuk, bahkan kelelahan.

Fenomena ini muncul seiring berkembangnya AI yang mampu menulis kode, membuat prototipe aplikasi, hingga membangun gim sederhana hanya dari instruksi teks. Dalam beberapa menit, sesuatu yang dulu membutuhkan berhari-hari kini bisa muncul di layar. Bagi banyak orang, ini terasa seperti sihir. Sensasi awalnya mirip saat pertama kali melihat hasil cetakan printer 3D: cepat, mengagumkan, dan terasa revolusioner.

Namun setelah euforia itu berlalu, kenyataan mulai terlihat lebih kompleks. AI memang mampu mengerjakan banyak hal teknis, tetapi tidak benar-benar memahami tujuan besar, konteks jangka panjang, atau makna di balik sebuah desain. Semua itu masih bergantung pada manusia. Tanpa arahan yang jelas, agen AI mudah tersesat, mengulang kesalahan, atau menghasilkan solusi yang tampak benar tetapi rapuh.

Pengalaman mencoba puluhan proyek perangkat lunak menunjukkan satu pola yang konsisten. Bagian awal selalu terasa sangat cepat dan menyenangkan. Dalam waktu singkat, kerangka aplikasi sudah berdiri, fitur utama tampak berfungsi, dan hasilnya cukup untuk dipamerkan. Masalah muncul di tahap penyempurnaan. Sepuluh persen terakhir justru memakan waktu paling lama, penuh dialog bolak-balik, perbaikan kecil yang memicu bug baru, dan keputusan desain yang tidak bisa diserahkan begitu saja pada mesin.

Keterbatasan ini bukan kebetulan. Agen AI bekerja berdasarkan contoh yang pernah mereka pelajari. Mereka sangat piawai meniru pola umum yang sudah banyak ada, tetapi canggung saat diminta menciptakan sesuatu yang benar-benar berbeda. Bahkan pilihan kata dalam instruksi bisa mengarahkan AI ke asumsi lama yang tidak diinginkan. Akibatnya, kreativitas tetap menuntut kecerdikan manusia, termasuk kemampuan menghindari istilah tertentu agar mesin tidak terjebak pada pola lama.

Di sisi lain, kemudahan ini justru memicu godaan baru. Menambahkan fitur terasa terlalu mudah. Ide satu memancing ide berikutnya. Perbaikan ditunda karena membuat hal baru jauh lebih menyenangkan. Dalam skala besar, ini dikenal sebagai feature creep, penyakit lama pengembangan perangkat lunak yang kini diperparah oleh kecepatan AI. Tanpa disiplin dan perencanaan matang, proyek cepat membengkak tanpa arah jelas.

Hal yang paling mengejutkan adalah dampaknya terhadap ritme kerja manusia. Alih-alih mengurangi beban, alat ini mendorong produktivitas ke tingkat yang sulit diimbangi tubuh dan pikiran. Mesin bisa bekerja tanpa lelah, sementara manusia tetap membutuhkan istirahat. Ketika ide bisa diwujudkan hampir seketika, muncul dorongan untuk terus mencoba, terus membuat, dan terus menambah. Dalam jangka panjang, ini berpotensi menimbulkan kelelahan mental yang serius.

Isu ini penting karena bertabrakan dengan narasi populer bahwa AI akan menggantikan peran manusia. Pengalaman nyata justru menunjukkan kebalikannya. Peran manusia belum tergantikan, bahkan semakin krusial. Penilaian, intuisi, pemahaman konteks, dan kemampuan mengambil keputusan strategis tetap berada di tangan manusia. AI bertindak sebagai penguat, bukan pengganti.

Bagi masyarakat luas, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para pengembang. Kecepatan produksi perangkat lunak, gim, dan konten digital akan melonjak drastis. Arus produk baru akan semakin deras, sulit diikuti, dan berpotensi membanjiri ruang digital. Tantangannya bukan lagi bagaimana menciptakan sesuatu, melainkan bagaimana menyaring, menjaga kualitas, dan melindungi manusia dari tuntutan kerja tanpa henti.

Agen AI untuk menulis kode tidak akan menghilang. Mereka akan semakin canggih dan semakin mudah diakses. Pertanyaannya bukan apakah alat ini akan digunakan, melainkan bagaimana manusia belajar mengendalikannya. Sejarah menunjukkan bahwa alat terbaik adalah yang memperkuat kemampuan manusia tanpa menghilangkan kendali. Dalam konteks ini, AI adalah perkakas bertenaga tinggi. Manfaatnya besar, tetapi tanpa batas yang jelas, risikonya juga nyata.