AI Bisa Gantikan Pekerjaan Kantoran Yang Bergaji Tinggi

Perkembangan kecerdasan buatan semakin cepat dan mulai menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan pekerjaan manusia. Sebuah riset terbaru dari perusahaan teknologi AI Anthropic menunjukkan bahwa banyak pekerjaan profesional sebenarnya sudah bisa dilakukan oleh AI, meskipun dalam praktiknya teknologi tersebut belum digunakan secara penuh. Temuan ini memunculkan kemungkinan munculnya tekanan besar terhadap tenaga kerja kantoran dalam beberapa tahun ke depan.

Studi yang ditulis oleh Maxim Massenkoff dan Peter McCrory mencoba memetakan sejauh mana AI mampu menggantikan tugas-tugas pekerjaan manusia. Mereka membandingkan dua hal: kemampuan AI secara teori dan penggunaan AI yang benar-benar terjadi di dunia kerja. Data penggunaan diambil dari interaksi profesional dengan model AI milik Anthropic yang bernama Claude.

Hasilnya menunjukkan kesenjangan yang cukup besar. Dalam banyak bidang pekerjaan seperti bisnis, keuangan, manajemen, hukum, matematika, hingga administrasi kantor, AI sebenarnya mampu menangani sebagian besar tugas yang biasa dilakukan manusia. Namun kenyataannya, pemanfaatan AI di perusahaan masih jauh di bawah potensi tersebut.

Contohnya terlihat pada bidang komputer dan matematika. Model bahasa besar secara teori mampu menangani sekitar 94 persen tugas di bidang ini. Tetapi dalam praktik penggunaan profesional yang teramati, AI baru melakukan sekitar sepertiga dari pekerjaan tersebut. Pola serupa juga terjadi di pekerjaan administrasi dan perkantoran, di mana kemampuan AI sangat tinggi tetapi tingkat pemakaiannya masih rendah.

Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai jarak antara kemampuan teknologi dan tingkat adopsi di dunia nyata. Selama teknologi masih memiliki keterbatasan, aturan hukum masih membatasi, dan hasil kerja AI tetap harus diperiksa manusia, perusahaan belum sepenuhnya menggantikan pekerja dengan mesin. Namun hambatan tersebut diperkirakan tidak akan bertahan selamanya.

Jika adopsi AI meningkat dan kemampuan teknologi terus berkembang, dampaknya diperkirakan paling terasa pada pekerja profesional berpendidikan tinggi. Kelompok pekerjaan yang paling rentan justru bukan pekerjaan fisik atau manual, melainkan profesi seperti analis keuangan, pengacara, programmer, hingga pekerjaan administrasi berbasis komputer.

Data penelitian menunjukkan bahwa kelompok pekerja yang paling terpapar AI cenderung memiliki tingkat pendidikan tinggi dan penghasilan lebih besar dibandingkan kelompok yang minim paparan teknologi. Bahkan kemungkinan memiliki gelar pascasarjana hampir empat kali lebih besar dibanding kelompok pekerjaan yang relatif aman dari otomatisasi.

Beberapa contoh pekerjaan yang sangat terpapar AI termasuk programmer komputer, staf layanan pelanggan, dan operator entri data. Tugas-tugas yang berbasis teks, analisis, dan pemrosesan informasi relatif mudah ditangani oleh model AI modern.

Sebaliknya, sekitar 30 persen pekerjaan hampir tidak terpengaruh oleh AI karena membutuhkan kehadiran fisik manusia. Profesi seperti koki, mekanik, bartender, atau pencuci piring masih sangat bergantung pada keterampilan manual yang tidak bisa dilakukan oleh model bahasa.

Temuan ini memunculkan kemungkinan skenario ekonomi yang cukup serius bagi pekerja profesional. Para peneliti menyebut kemungkinan terjadinya perlambatan besar dalam lapangan kerja kantor yang menyerupai krisis ekonomi bagi pekerja kerah putih. Dalam skenario tersebut, tingkat pengangguran di sektor pekerjaan yang sangat terpapar AI bisa meningkat tajam jika perusahaan mulai menggantikan pekerja dengan teknologi.

Sejumlah tokoh industri teknologi juga sudah memberikan peringatan serupa. CEO Anthropic Dario Amodei pernah menyatakan bahwa AI berpotensi mengganggu hingga setengah pekerjaan tingkat awal di sektor profesional. Prediksi yang hampir sama juga disampaikan oleh kepala AI di Microsoft, Mustafa Suleyman, yang memperkirakan sebagian besar pekerjaan profesional bisa berubah drastis dalam waktu relatif singkat.

Perubahan ini mulai terlihat dari sisi perekrutan tenaga kerja. Beberapa perusahaan teknologi mulai memperkecil tim karena pekerjaan tertentu dapat dilakukan oleh sistem AI. Perusahaan pembayaran digital Block misalnya mengurangi hampir setengah jumlah karyawan dan menyebut penggunaan AI sebagai salah satu alasan restrukturisasi. Perusahaan tersebut didirikan oleh Jack Dorsey.

Namun dampak yang lebih nyata saat ini bukanlah gelombang pemutusan hubungan kerja besar-besaran, melainkan perlambatan perekrutan. Penelitian menunjukkan peluang mendapatkan pekerjaan baru di sektor yang sangat terpapar AI turun sekitar 14 persen setelah era chatbot populer dimulai. Penurunan ini terutama dirasakan oleh pekerja muda yang baru memasuki pasar kerja.

Sebagian dari mereka akhirnya menunda masuk ke dunia kerja, berpindah ke bidang lain, atau kembali melanjutkan pendidikan. Situasi tersebut menunjukkan bagaimana teknologi dapat mengubah jalur karier generasi baru bahkan sebelum mereka benar-benar memulai pekerjaan profesional.

Perkembangan ini penting karena struktur ekonomi modern sangat bergantung pada pekerjaan berbasis pengetahuan. Jika AI mulai menggantikan sebagian besar tugas intelektual, pasar tenaga kerja dapat mengalami perubahan besar yang berbeda dari revolusi industri sebelumnya.

Bagi banyak sektor profesional, riset ini menjadi peringatan awal bahwa transformasi pekerjaan mungkin terjadi lebih cepat dari perkiraan. Kesenjangan antara kemampuan AI dan penggunaannya saat ini menunjukkan bahwa perubahan besar belum terjadi sepenuhnya, tetapi fondasinya sudah terbentuk.