Antara Janji Mode “Thinking” ChatGPT hingga Target Elon Musk yang Meleset

Tahun 2025 menjadi cermin penting bagi industri teknologi global. Di satu sisi, ada pembaruan nyata yang memperbaiki pengalaman pengguna, seperti hadirnya mode “Thinking” yang benar-benar berfungsi pada aplikasi Android ChatGPT. Di sisi lain, publik kembali dihadapkan pada deretan janji ambisius tokoh teknologi dunia yang belum juga terwujud, khususnya dari Elon Musk, sosok yang kerap mengumbar prediksi besar dengan tenggat waktu agresif.

Perbandingan ini menyoroti satu isu krusial: kredibilitas inovasi teknologi tidak lagi ditentukan oleh seberapa besar janji yang dibuat, melainkan oleh seberapa konsisten janji tersebut diwujudkan.

Pada akhir 2025, ChatGPT untuk Android akhirnya menghadirkan mode “Thinking” yang bukan sekadar gimmick visual. Jika sebelumnya fitur tersebut hanya memberi kesan seolah-olah sistem sedang “berpikir”, versi terbaru benar-benar menampilkan proses penalaran yang lebih terstruktur dan respons yang terasa lebih mendalam. Pembaruan ini disambut positif karena menunjukkan pendekatan yang lebih jujur dan fungsional terhadap kecerdasan buatan, tanpa klaim berlebihan. Pengguna merasakan peningkatan nyata, bukan sekadar janji roadmap yang belum tentu terwujud.

Pendekatan ini kontras dengan pola yang selama bertahun-tahun melekat pada Elon Musk. Menjelang berakhirnya 2025, berbagai janji besar yang pernah ia lontarkan kembali dievaluasi, dan sebagian besar tidak terealisasi. Salah satu contoh paling menonjol adalah ambisi mengirim manusia ke Mars. Musk pernah menyatakan bahwa kolonis manusia bisa tiba di Planet Merah pada 2025, sebuah target yang kini jelas meleset jauh dari kenyataan.

Di sektor otomotif, klaim Musk soal robotaxi Tesla juga menuai sorotan. Ia sempat menyebut bahwa layanan robotaxi akan menjangkau setengah populasi Amerika Serikat pada akhir 2025. Fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Bahkan di Austin, Texas, wilayah paling awal uji coba keberadaan robotaxi Tesla masih jarang terlihat. Lebih jauh lagi, janji tentang kendaraan Tesla yang sepenuhnya tanpa pengemudi juga belum sepenuhnya terpenuhi, karena masih adanya pengawas keselamatan manusia di dalam kendaraan, sesuai regulasi yang berlaku.

Ambisi Musk di bidang kecerdasan buatan melalui xAI pun menghadapi nasib serupa. Pada 2024, ia dengan percaya diri menyebut bahwa artificial general intelligence (AGI) akan tercapai pada 2025. Kini, target tersebut kembali digeser ke “beberapa tahun ke depan”, sebuah pola yang sudah sering terjadi pada berbagai proyeknya. AGI, yang digambarkan sebagai AI dengan kemampuan berpikir dan bertindak setara manusia, tetap menjadi konsep futuristik yang belum terwujud secara nyata.

Janji lain yang tak kalah menarik perhatian adalah demonstrasi Tesla Roadster generasi baru, bahkan sempat diselimuti spekulasi soal “mobil terbang”. Hingga 2025 berakhir, baik demo Roadster maupun teknologi mobil terbang tersebut belum pernah diperlihatkan ke publik. Padahal, kendaraan ini sudah diperkenalkan dan menerima pre-order sejak 2017.

Di luar sektor teknologi murni, keterlibatan Musk dalam lembaga DOGE yang bertujuan memangkas pemborosan anggaran pemerintah AS juga menuai kritik. Target penghematan awal sebesar 2 triliun dolar AS perlahan menyusut, hingga akhirnya analisis independen menunjukkan bahwa penghematan signifikan tersebut tidak benar-benar terjadi. Bahkan, belanja pemerintah justru tercatat meningkat selama periode yang sama.

Rangkaian fakta ini mempertegas perbedaan mendasar antara inovasi yang dibangun di atas eksekusi nyata dan inovasi yang lebih banyak bertumpu pada narasi. Pembaruan ChatGPT di Android mungkin tidak dibungkus janji spektakuler, namun memberikan dampak langsung dan terukur bagi pengguna. Sebaliknya, janji-janji besar tanpa realisasi justru berisiko menggerus kepercayaan publik, investor, dan regulator.

Memasuki 2026, industri teknologi tampaknya akan semakin dinilai berdasarkan hasil, bukan retorika. Publik kini lebih kritis, menuntut transparansi, kemajuan yang terukur, dan akuntabilitas. Dalam lanskap seperti ini, kemampuan untuk benar-benar “mengirimkan hasil” menjadi mata uang paling berharga, jauh lebih bernilai daripada sekadar visi besar yang tak kunjung menjadi kenyataan.