Asus selama ini dikenal luas sebagai merek teknologi yang rajin bereksperimen, termasuk di dunia ponsel pintar. Dari Zenfone yang ringkas hingga ROG Phone yang agresif menyasar penggemar gim, perusahaan asal Taiwan ini pernah mencoba menawarkan alternatif di tengah dominasi merek besar. Namun arah perjalanan itu kini berubah drastis.
Dalam sebuah acara internal perusahaan di Taiwan awal 2026, pimpinan tertinggi Asus secara terbuka menyatakan bahwa perusahaan tidak lagi menyiapkan model ponsel baru untuk waktu yang belum ditentukan. Fokus bisnis akan dialihkan ke pengembangan produk berbasis kecerdasan buatan, seperti server AI, robot, dan perangkat pintar yang bisa dikenakan. Dengan kata lain, lini ponsel Asus memasuki masa jeda panjang tanpa kepastian kapan, atau apakah, akan kembali.
Keputusan ini bukan datang secara tiba-tiba. Beberapa pekan sebelumnya, sudah beredar rumor bahwa Asus mulai mengerem ambisi di pasar ponsel, meski saat itu perusahaan belum mau angkat bicara. Konfirmasi resmi ini menandai berakhirnya satu fase penting dalam sejarah Asus sebagai produsen perangkat Android.
Untuk memahami langkah tersebut, perlu melihat kondisi pasar ponsel saat ini. Smartphone bukan lagi produk yang berkembang pesat dari tahun ke tahun. Inovasi terasa makin kecil, harga makin tinggi, dan banyak orang memilih memakai perangkat lebih lama sebelum mengganti. Di saat yang sama, persaingan semakin ketat dengan kehadiran produsen besar dan agresif, terutama dari Tiongkok, yang mampu merilis banyak model dengan siklus cepat dan dukungan jangka panjang.
Di tengah situasi itu, posisi Asus terjepit. Zenfone sebenarnya punya ciri khas sebagai ponsel berukuran lebih kecil dan relatif terjangkau, tetapi dukungan perangkat lunak yang singkat membuatnya kalah menarik dibanding pesaing. ROG Phone, di sisi lain, memang unik dan kuat untuk bermain gim, lengkap dengan sistem pendingin aktif dan aksesori khusus. Masalahnya, harga yang sangat tinggi membuat pasarnya sangat sempit, bahkan lebih mahal dari ponsel flagship merek arus utama.
Bagi yang masih menggunakan ponsel Asus, perusahaan menyatakan pembaruan tetap akan berjalan sesuai komitmen yang sudah ada. Namun sejak awal, kebijakan pembaruan Asus memang tidak pernah menjadi yang paling unggul di industri, sehingga keputusan mundur ini terasa sebagai kelanjutan dari arah yang sudah terbaca.
Langkah Asus juga mencerminkan pola yang lebih besar di industri teknologi. Beberapa produsen pernah mencoba mengurangi atau menghentikan produksi ponsel dengan harapan bisa kembali saat kondisi membaik. Sejarah menunjukkan hal itu jarang terjadi. Begitu ritme rilis terhenti, merek lain dengan ekosistem dan dukungan lebih kuat akan segera mengisi celah.
Bagi pasar secara keseluruhan, absennya Asus berarti pilihan semakin menyempit. Ragam pendekatan dan desain yang dulu meramaikan dunia Android perlahan menghilang, digantikan model-model yang semakin seragam. Namun dari sudut pandang bisnis, keputusan ini masuk akal. Asus mencatat pertumbuhan pendapatan signifikan pada 2025, terutama dari bisnis server AI yang melonjak tajam. Di tengah potensi keuntungan tersebut, mempertahankan lini ponsel yang terus merugi jelas bukan prioritas.
Perubahan arah Asus menjadi pengingat bahwa industri ponsel telah memasuki fase matang. Tidak semua pemain bisa bertahan, dan bahkan nama besar pun harus memilih medan yang paling menjanjikan. Dampaknya terasa langsung pada ekosistem Android, yang kini bergerak menuju konsentrasi merek dan produk yang semakin terbatas, sementara perusahaan seperti Asus memilih menaruh masa depannya di ranah kecerdasan buatan.

