Qualcomm diperkirakan tidak akan meniru langkah Apple dalam menerapkan arsitektur RAM terpadu secara menyeluruh pada lini chipset Snapdragon untuk laptop. Keputusan ini bukan semata soal teknologi, melainkan lebih dipengaruhi oleh posisi strategis Qualcomm sebagai pemasok chip bagi berbagai produsen notebook.
Apple mengembangkan seluruh ekosistem produknya secara terintegrasi, mulai dari desain chip, perangkat keras, hingga sistem operasi. Model bisnis ini memungkinkan perusahaan tersebut mengadopsi memori yang ditempatkan langsung di dalam paket prosesor, atau dikenal sebagai unified memory. Pendekatan ini menghasilkan kecepatan akses data yang sangat tinggi dan latensi yang nyaris tidak terasa, sehingga performa sistem terasa lebih responsif.
Di sisi lain, Qualcomm berada di posisi yang berbeda. Perusahaan ini bertindak sebagai penyedia chip yang dipasarkan ke banyak mitra manufaktur laptop. Setiap mitra memiliki kebutuhan desain, target harga, dan strategi pasar yang tidak sama. Kondisi tersebut membuat Qualcomm harus berhitung lebih cermat dalam menentukan rancangan arsitektur perangkat keras, termasuk dalam urusan memori.
Penerapan RAM terpadu secara luas berpotensi meningkatkan biaya produksi chipset secara signifikan. Integrasi memori langsung ke dalam paket prosesor menuntut proses manufaktur yang lebih kompleks, sekaligus penggunaan komponen dengan kualitas tinggi. Biaya ini pada akhirnya akan dibebankan kepada produsen laptop, yang umumnya lebih memilih fleksibilitas dalam memilih pemasok memori agar margin keuntungan tetap terjaga.
Selain soal biaya, aspek termal juga menjadi tantangan. Memori yang terintegrasi langsung cenderung menghasilkan panas tambahan. Hal ini memaksa produsen perangkat untuk merancang sistem pendingin yang lebih rumit dan mahal. Pada segmen laptop tipis dan ringan, persoalan panas menjadi krusial karena ruang untuk solusi pendinginan sangat terbatas.
Qualcomm sebenarnya telah mencoba pendekatan memori terpadu pada varian tertentu, yakni Snapdragon X2 Elite Extreme. Namun, versi ini hanya hadir dengan kapasitas memori besar sebagai standar, sehingga lebih cocok untuk laptop kelas premium dengan harga tinggi. Jika arsitektur serupa diterapkan ke seluruh lini produk, Qualcomm harus menyediakan banyak varian chipset dengan kapasitas memori berbeda. Strategi tersebut berisiko menciptakan stok berlebih dan kerugian apabila tidak semua varian terserap pasar.
Sebagai alternatif, industri saat ini mulai melirik standar LPCAMM2, yang menawarkan peningkatan kecepatan dan latensi dibanding RAM solder konvensional, namun tetap mempertahankan opsi peningkatan kapasitas oleh pengguna. Meski menjanjikan, adopsi teknologi ini masih memerlukan waktu sebelum dapat diterapkan secara luas.
Keputusan Qualcomm ini penting karena berpengaruh langsung terhadap arah perkembangan laptop berbasis Windows di masa depan. Tanpa adopsi memori terpadu secara masif, pengalaman responsif seperti yang dirasakan pada perangkat Apple Silicon kemungkinan belum akan sepenuhnya terwujud di ekosistem Windows dalam waktu dekat.
Bagi pengguna, dampaknya terasa pada keseimbangan antara performa, fleksibilitas, dan harga. Laptop dengan chipset Snapdragon tetap menawarkan efisiensi daya yang tinggi dan kinerja kompetitif, namun belum dapat sepenuhnya menyamai integrasi sistem ala Apple. Di sisi lain, pendekatan ini menjaga harga perangkat tetap lebih terjangkau dan memberi ruang bagi produsen untuk berinovasi dalam desain serta spesifikasi.
Ke depan, perubahan besar mungkin terjadi jika Qualcomm memutuskan untuk merilis laptop bermerek sendiri, sehingga dapat mengontrol seluruh aspek desain seperti yang dilakukan Apple. Hingga saat itu tiba, strategi sebagai pemasok bagi banyak mitra akan terus membentuk keputusan teknologi yang diambil perusahaan.

