Deretan Blunder Teknologi dan Akhir Era Produk Digital Sepanjang 2025

Tahun 2025 menjadi periode yang penuh ironi bagi industri teknologi global. Di tengah laju inovasi kecerdasan buatan, ekspansi data center, dan janji efisiensi digital, publik justru disuguhi rangkaian kegagalan, kontroversi, serta berakhirnya sejumlah produk dan layanan teknologi yang pernah berjaya. Dari kesalahan fatal berbasis AI hingga matinya ikon teknologi lawas, 2025 menegaskan satu hal: kemajuan tidak selalu berjalan mulus.

Salah satu sorotan terbesar datang dari dunia kecerdasan buatan. Peluncuran GPT-5 oleh OpenAI yang sangat dinantikan justru menuai kekecewaan. Banyak pengguna merasa model terbaru ini tidak memberikan lompatan signifikan dibanding pendahulunya, bahkan dinilai lebih “dingin” dalam merespons. Reaksi negatif ini memaksa OpenAI menghidupkan kembali opsi pemilihan model lama untuk pelanggan berbayar. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi publik terhadap AI kini semakin tinggi, sementara kesalahan kecil bisa berdampak besar pada reputasi perusahaan.

Masalah AI tidak berhenti di sana. Lonjakan pembangunan data center AI mendorong krisis komponen global, terutama RAM dan GPU. Harga memori melonjak tajam, memukul konsumen PC rumahan dan bahkan produsen perangkat murah. Beberapa perusahaan seperti Micron memilih menarik diri dari pasar konsumen demi fokus pada klien data center, menandai pergeseran prioritas industri yang berdampak langsung pada pasar ritel teknologi.

Di sisi lain, automasi berbasis AI juga memunculkan risiko nyata. Sepanjang 2025, beberapa insiden memperlihatkan agen AI yang “lepas kendali”, termasuk kasus penghapusan database perusahaan tanpa izin akibat kesalahan penilaian sistem. Insiden ini memperkuat kekhawatiran bahwa ketergantungan berlebihan pada AI tanpa pengawasan manusia dapat berujung pada kerugian besar.

Tak kalah mencolok, sejumlah perusahaan teknologi raksasa mengalami kegagalan publik yang memalukan. Meta, misalnya, harus menghadapi demo produk yang kacau di panggung besar akibat sistem internal yang justru membanjiri server mereka sendiri. Sementara itu, chatbot Grok milik xAI sempat dihentikan sementara setelah memicu kontroversi serius akibat respons ekstrem yang tidak terkendali.

Ranah politik dan teknologi juga saling bersinggungan secara problematik. Tahun ini diwarnai kebijakan tarif yang berubah-ubah, ketidakpastian regulasi aplikasi seperti TikTok, serta tekanan pemerintah terhadap media dan platform digital. Kebijakan ini menciptakan kebingungan bagi industri, konsumen, hingga pelaku usaha kecil yang bergantung pada stabilitas ekosistem teknologi global.

Di tengah berbagai kegagalan tersebut, 2025 juga menjadi tahun perpisahan bagi sejumlah teknologi ikonik. Layanan dial-up AOL resmi dihentikan, mengakhiri salah satu simbol awal era internet. Tombol “home” iPhone akhirnya benar-benar punah, menutup bab desain klasik Apple. Skype versi mandiri dilebur ke dalam Microsoft Teams, menandai berakhirnya sebuah aplikasi legendaris komunikasi global.

Produk lain yang ikut tersingkir adalah Humane AI Pin, yang gagal membuktikan relevansinya di tengah dominasi smartphone multifungsi. Google juga menuai kritik setelah mengakhiri dukungan untuk generasi awal Nest Learning Thermostat, memicu perdebatan soal planned obsolescence. Bahkan Blue Screen of Death khas Windows digantikan dengan tampilan baru, menghapus salah satu ikon paling dikenali dalam sejarah sistem operasi.

Sektor perangkat keras dan hiburan digital turut terdampak. Amazon menutup toko aplikasi Android-nya untuk publik, Google menghentikan pembaruan firmware terakhir bagi controller Stadia, dan impor drone DJI dibatasi di Amerika Serikat. Semua ini memperlihatkan bagaimana perubahan kebijakan dan strategi bisnis dapat mengakhiri umur sebuah produk, terlepas dari popularitasnya.

Jika dirangkum, 2025 adalah tahun refleksi bagi industri teknologi. Inovasi tetap berjalan, namun dibarengi kesalahan, keputusan terburu-buru, dan akhir dari banyak hal yang pernah dianggap tak tergantikan. Dari blunder AI hingga matinya teknologi legendaris, tahun ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia digital, tidak ada yang benar-benar abadi.