Dunia Mahal Virtual Meta Resmi Tutup, Ribuan Karyawan di-PHK

Selama beberapa tahun terakhir, Meta dikenal sebagai perusahaan yang bertaruh besar pada masa depan dunia virtual. Bahkan, nama Facebook resmi ditinggalkan demi satu kata baru yang dianggap mewakili arah masa depan internet. Namun awal 2026 menandai perubahan besar. Meta mulai mundur dari ambisi tersebut, dan ribuan karyawan harus menanggung dampaknya.

Meta dilaporkan memangkas sekitar 1.500 pekerja di divisi Reality Labs, unit yang selama ini mengembangkan teknologi realitas virtual dan augmented reality. Jumlah ini setara hampir sepersepuluh dari total tenaga kerja divisi tersebut. Sejumlah studio gim VR ditutup, dan platform dunia virtual andalan Meta kini beroperasi dalam skala yang jauh lebih kecil dibandingkan masa puncaknya.

Untuk memahami keputusan ini, kita perlu melihat konteks di baliknya. Sejak dibentuk pada 2020, Reality Labs menjadi pusat eksperimen Meta dalam membangun dunia digital imersif. Visi Mark Zuckerberg kala itu adalah menghadirkan ruang virtual tempat orang bekerja, bermain, dan bersosialisasi. Masalahnya, visi tersebut tidak pernah benar-benar diterjemahkan menjadi bisnis yang menghasilkan. Dalam lima tahun, unit ini dilaporkan telah membakar dana puluhan miliar dolar tanpa menunjukkan tanda keuntungan yang jelas.

Bagi Meta, kondisi ini semakin sulit dipertahankan. Seiring tekanan investor dan melambatnya pertumbuhan iklan digital, perusahaan mulai mengalihkan fokus. Arah baru yang dipilih adalah perangkat berbasis kecerdasan buatan yang bisa dipakai sehari-hari, seperti kacamata pintar. Investasi pun dipindahkan, dan realitas virtual perlahan kehilangan prioritas.

Topik ini penting karena menunjukkan betapa cepatnya arah industri teknologi bisa berubah. Proyek yang pernah digadang-gadang sebagai masa depan internet ternyata bisa meredup hanya dalam beberapa tahun. Keputusan Meta juga menjadi pengingat bahwa perusahaan teknologi raksasa sekalipun tidak kebal terhadap salah perhitungan strategi.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja di tengah pasar tenaga kerja yang sedang sulit. Bagi pembaca umum, terutama pengguna teknologi, ini menandakan pergeseran tren. Alih-alih dunia virtual yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan nyata, perusahaan teknologi kini lebih tertarik pada perangkat yang menyatu langsung dengan aktivitas sehari-hari, didukung oleh kecerdasan buatan.

Bagi konsumen, artinya kita mungkin akan lebih sering melihat produk AI wearable dibandingkan platform VR berskala besar. Bagi industri, ini menjadi pelajaran mahal tentang pentingnya menyeimbangkan visi futuristik dengan realitas pasar. Dan bagi Meta sendiri, langkah ini seolah menjadi penutup dari satu bab besar yang pernah dicanangkan sebagai masa depan, namun akhirnya harus diakhiri sebelum benar-benar terwujud.