Mengapa Internet Terasa Semakin Buruk? Fenomena “Enshittification” Ungkap Cara Platform Digital Merusak Diri Sendiri

Banyak orang mulai merasakan perubahan aneh ketika menggunakan layanan internet populer. Mesin pencari tidak lagi menampilkan informasi paling relevan, toko online dipenuhi produk aneh dengan ulasan mencurigakan, sementara media sosial dipenuhi konten yang terasa tidak alami.

Perubahan tersebut bukan sekadar kesan pribadi. Dalam beberapa tahun terakhir muncul istilah baru yang mencoba menjelaskan fenomena tersebut, yaitu enshittification. Istilah ini merujuk pada proses penurunan kualitas platform digital secara bertahap seiring pertumbuhan perusahaan teknologi.

Konsep ini dipopulerkan oleh penulis teknologi Cory Doctorow dalam bukunya yang membahas bagaimana berbagai layanan internet besar perlahan berubah dari platform yang sangat berguna menjadi sistem yang lebih mengutamakan keuntungan dibanding pengalaman pengguna.

Pada tahap awal, sebuah platform biasanya hadir dengan layanan yang sangat baik. Mesin pencari menampilkan hasil yang akurat, toko online memudahkan pembelian, dan media sosial membuat komunikasi menjadi lebih mudah. Fokus utama perusahaan adalah menarik sebanyak mungkin pengguna dengan pengalaman yang sederhana dan efektif.

Setelah basis pengguna menjadi sangat besar, fase berikutnya mulai muncul. Perusahaan mulai memanfaatkan perhatian pengguna untuk kepentingan bisnis. Iklan semakin banyak muncul, data pengguna dikumpulkan lebih agresif, dan algoritma dirancang untuk memaksimalkan pendapatan.

Langkah ini sering kali membuat perusahaan menarik lebih banyak pengiklan dan mitra bisnis. Namun situasi kemudian berubah lagi ketika platform mulai menekan para mitra tersebut. Biaya iklan meningkat, algoritma dapat menguntungkan pihak tertentu, dan pelaku bisnis harus membayar lebih besar agar tetap terlihat oleh pengguna.

Pada tahap akhir, kualitas platform biasanya menurun bagi semua pihak. Pengguna kesulitan menemukan informasi yang benar-benar dicari, sementara pelaku bisnis menghadapi biaya dan persaingan yang semakin tidak transparan. Meski demikian, banyak orang tetap menggunakan platform tersebut karena sudah terlanjur bergantung pada ekosistemnya.

Salah satu contoh yang sering dibahas adalah Amazon. Marketplace ini awalnya dikenal sebagai tempat berbelanja yang murah dan efisien dengan pengiriman cepat serta kebijakan pengembalian yang mudah. Model tersebut berhasil menarik jutaan pelanggan sekaligus mendorong banyak penjual untuk bergabung.

Namun seiring waktu, hasil pencarian produk semakin dipenuhi iklan berbayar. Produk yang sebenarnya paling relevan sering kali tenggelam di antara daftar barang yang dipromosikan. Selain itu, platform tersebut juga dipenuhi berbagai produk tiruan, merek yang tidak dikenal, hingga ulasan yang diragukan keasliannya.

Fenomena serupa juga terlihat pada mesin pencari dan media sosial. Hasil pencarian sering dipenuhi konten yang dibuat untuk mengejar klik atau bahkan konten otomatis yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan. Media sosial juga dipenuhi postingan yang tidak jelas sumbernya, sehingga pengalaman menggunakan platform terasa semakin membingungkan.

Beberapa faktor dianggap mempercepat proses ini. Salah satunya adalah kekuatan perusahaan teknologi yang semakin besar sehingga persaingan menjadi lebih lemah. Ketika jumlah pesaing sedikit, perusahaan memiliki ruang lebih luas untuk mengubah kebijakan tanpa takut kehilangan pengguna.

Faktor lain adalah keterikatan pengguna pada platform tertentu. Data, kontak, dan aktivitas yang tersimpan di satu layanan membuat perpindahan ke platform lain menjadi tidak mudah. Hal ini membuat banyak orang tetap bertahan meskipun kualitas layanan menurun.

Selain itu, pembatasan terhadap modifikasi perangkat dan perangkat lunak juga berperan. Teknologi seperti digital rights management atau sistem komponen eksklusif membuat pengguna tidak bebas memperbaiki atau memodifikasi perangkat mereka sendiri.

Sebagian pengamat teknologi juga menyoroti perubahan dalam industri tenaga kerja digital. Gelombang pemutusan hubungan kerja dan otomatisasi membuat pekerja teknologi memiliki pengaruh yang lebih kecil terhadap kebijakan perusahaan dibanding sebelumnya.

Berbagai solusi mulai dibahas untuk mengatasi situasi ini. Penegakan hukum antimonopoli yang lebih kuat dianggap dapat membuka ruang bagi pesaing baru. Regulasi yang menjamin hak memperbaiki perangkat juga dinilai penting agar konsumen memiliki kontrol lebih besar atas teknologi yang dimiliki.

Di sisi lain, muncul pula gagasan menghadirkan layanan digital yang dikelola secara publik, seperti mesin pencari atau layanan internet tanpa iklan dan tanpa pelacakan data.

Fenomena enshittification menunjukkan bahwa perubahan kualitas internet tidak terjadi secara kebetulan. Proses tersebut sering kali merupakan hasil dari strategi bisnis yang berkembang seiring pertumbuhan perusahaan teknologi. Tanpa persaingan yang sehat dan regulasi yang kuat, pengalaman menggunakan internet kemungkinan akan terus berubah ke arah yang semakin kompleks dan tidak ramah pengguna.