Grok Elon Diduga Ungkap Alamat Rumah Warga, Picu Kekhawatiran Privasi

Platform kecerdasan buatan Grok yang dikembangkan perusahaan xAI milik Elon Musk kembali menjadi sorotan setelah ditemukan mampu membocorkan alamat rumah individu yang bukan figur publik. Temuan ini memunculkan kekhawatiran serius terkait penyalahgunaan data pribadi dan potensi ancaman seperti stalking maupun pelecehan digital.

Laporan dari Futurism pada awal pekan ini mengungkap bahwa Grok tidak hanya memberikan informasi pribadi tentang tokoh terkenal seperti pendiri Barstool Sports, Dave Portnoy, tetapi juga menunjukkan perilaku serupa terhadap masyarakat biasa. Saat pengguna memasukkan permintaan sederhana berupa nama seseorang disertai kata “address”, chatbot tersebut dilaporkan memberikan alamat tempat tinggal yang akurat dan terkini, tanpa peringatan berarti.

Dalam pengujian terhadap 33 nama individu non publik, Grok memberikan sepuluh hasil berupa alamat rumah yang benar dan terverifikasi. Selain itu, tujuh pencarian menghasilkan alamat lama yang sebelumnya akurat, sementara empat lainnya menampilkan alamat kantor seseorang. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena informasi kantor juga dapat dimanfaatkan untuk tindakan pengintaian.

Lebih mengkhawatirkan lagi, dalam banyak kasus Grok justru menampilkan daftar orang lain dengan nama mirip, lengkap dengan alamat yang diduga tempat tinggal mereka. Hal ini tidak hanya membahayakan individu yang dituju, tetapi juga menimbulkan risiko bagi orang lain yang sama sekali tidak terkait. Dalam dua percobaan, pengguna bahkan diberikan opsi jawaban berupa dua daftar berisi nama, nomor kontak, serta alamat yang tidak diminta. Salah satu daftar tersebut ternyata memuat alamat aktual dari individu yang sedang dicari.

Pengguna juga melaporkan bahwa Grok kerap menambahkan informasi lain yang sangat sensitif, seperti nomor telepon, email, bahkan daftar anggota keluarga lengkap beserta alamat mereka. Hanya satu dari seluruh percobaan yang menunjukkan penolakan tegas dari Grok untuk memberikan alamat seseorang.

Perilaku ini sangat berbeda dengan chatbot lain seperti ChatGPT dari OpenAI, Gemini dari Google, serta Claude dari Anthropic. Ketiga model tersebut menolak memberikan data alamat pribadi bahkan ketika diminta dengan cara yang sangat sederhana. Mereka mengutip kebijakan privasi dan potensi risiko penyalahgunaan sebagai alasan penolakan.

Menurut dokumen model card terbaru Grok, sistem ini seharusnya menggunakan filter berbasis model untuk menolak permintaan yang berpotensi berbahaya. Namun kategori seperti stalking, pelecehan, atau permintaan informasi pribadi tidak disebut secara eksplisit dalam daftar permintaan berbahaya tersebut. Meski begitu, ketentuan layanan xAI tetap melarang penggunaan Grok untuk aktivitas ilegal atau melanggar privasi seseorang.

Masalah ini muncul di tengah sejumlah kontroversi lain terkait Grok. Belum lama ini, chatbot tersebut turut menjadi perbincangan karena menampilkan pernyataan bernada kebencian, termasuk respons ekstrem terkait isu sensitif yang melibatkan kelompok tertentu. Selain itu, Grok juga memiliki rekam jejak uji keamanan yang dianggap kurang ketat sejak peluncurannya.

Di sisi lain, sebagian pihak berpendapat bahwa Grok hanya mengakses dan menyajikan kembali data yang sudah lama beredar di internet. Banyak database publik dan semi publik berisi alamat, nomor telepon, serta data identitas lainnya yang tersebar luas dan berada dalam area abu-abu secara hukum. Meski demikian, keberadaan data tersebut selama ini cenderung tersembunyi dalam situs tidak ramah pengguna. Grok justru dinilai mempermudah proses pengumpulan dan penggabungan informasi dari berbagai sumber, mulai dari media sosial hingga catatan publik, sehingga menghasilkan detail yang lebih komprehensif.

Dengan kemampuan mengakses dan menyajikan informasi pribadi secara cepat dan efisien, Grok dinilai memiliki potensi besar untuk disalahgunakan. Hal ini membuat publik menuntut xAI untuk memperkuat mekanisme keamanan serta memastikan teknologi tersebut tidak digunakan untuk tujuan yang membahayakan. Hingga berita ini diturunkan, xAI belum memberikan tanggapan resmi atas temuan tersebut.