Lonjakan kebutuhan kecerdasan buatan yang masif mulai memunculkan konsekuensi tak terduga di industri teknologi global. Salah satu yang kini mencuat adalah ancaman krisis memori, khususnya DRAM, komponen vital yang menjadi otak penyimpanan sementara hampir semua perangkat komputasi.
Seorang eksekutif dari perusahaan memori besar mengakui bahwa kondisi ini bukan sekadar gangguan rantai pasok biasa. Dalam skenario terburuk, kekurangan RAM bisa membuat sejumlah produk batal dirilis, bahkan berpotensi menggoyang kelangsungan bisnis perusahaan yang tak mampu mengamankan pasokan.
Akar persoalannya terletak pada ledakan pembangunan pusat data AI di berbagai belahan dunia. Infrastruktur ini membutuhkan kapasitas memori dalam jumlah sangat besar untuk melatih dan menjalankan model kecerdasan buatan. Akibatnya, sebagian besar suplai memori global tersedot ke sektor tersebut. Ketidakseimbangan antara permintaan dan produksi pun terjadi dalam skala yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Dampaknya langsung terasa di pasar. Harga RAM melonjak tajam dalam hitungan bulan, naik tiga hingga enam kali lipat dibanding sebelumnya. Kenaikan ini bukan hanya membebani produsen perangkat keras, tetapi juga berpotensi diteruskan ke konsumen melalui harga laptop, PC, server, hingga perangkat gaming yang lebih mahal.
Situasi ini menjadi semakin krusial karena struktur pasar DRAM sangat terkonsentrasi. Sekitar 93 persen produksi global dikuasai oleh tiga raksasa industri, yakni Samsung Electronics, SK hynix, dan Micron Technology. Meski ketiganya tengah membangun fasilitas produksi baru, ekspansi dilakukan secara hati-hati. Produsen tidak ingin menambah kapasitas terlalu cepat karena risiko kelebihan pasokan saat siklus permintaan berubah.
Ketegangan pasokan ini bahkan berpotensi menjalar ke nama-nama besar industri. Nvidia dikabarkan mungkin mempertimbangkan untuk melewatkan peluncuran GPU gaming dalam satu generasi tertentu, sesuatu yang belum pernah terjadi selama tiga dekade terakhir. Apple pun disebut-sebut menghadapi tantangan dalam mengamankan RAM dan chip memori untuk SSD, komponen penting dalam lini produk Mac dan perangkat lainnya.
Bila kondisi ini berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh produsen perangkat kelas atas. Hampir semua sektor yang bersentuhan dengan komputasi dapat terdampak, mulai dari industri kreatif, pendidikan, kesehatan, hingga usaha kecil yang mengandalkan perangkat digital. Keterlambatan produk baru, spesifikasi yang diturunkan demi efisiensi biaya, atau harga yang semakin mahal bisa menjadi pemandangan umum dalam beberapa tahun ke depan.
Di sisi lain, ada perubahan perilaku yang diprediksi muncul. Dengan harga komponen yang tinggi, masyarakat kemungkinan akan lebih memilih memperbaiki perangkat yang rusak ketimbang langsung menggantinya. Siklus penggunaan perangkat bisa menjadi lebih panjang, sejalan dengan meningkatnya biaya produksi dan keterbatasan komponen.
Krisis memori ini memperlihatkan betapa terhubungnya ekosistem teknologi global. Lonjakan satu sektor, dalam hal ini kecerdasan buatan, mampu menciptakan efek domino yang memengaruhi seluruh rantai industri. Bagi pelaku usaha maupun individu, memahami dinamika ini menjadi penting karena keputusan pembelian perangkat, strategi bisnis, hingga investasi teknologi dalam beberapa tahun mendatang sangat mungkin dipengaruhi oleh ketersediaan dan harga RAM di pasar dunia.

