Heboh Microsoft Office Dibilang Mati, Jutaan User Dibuat Bingung

Selama beberapa hari terakhir, lini masa media sosial diramaikan satu klaim yang terdengar dramatis: Office sudah mati. Bagi ratusan juta orang yang setiap hari bekerja dengan Word, Excel, atau PowerPoint, kabar ini tentu mengagetkan. Banyak yang bertanya-tanya, apakah Microsoft benar-benar mengubur salah satu produk paling ikonik dalam sejarah komputasi?

Kepanikan itu berawal dari unggahan viral di platform X yang menyebut Microsoft telah mengganti Office menjadi “Microsoft 365 Copilot app”. Narasinya sederhana tapi provokatif: sekitar 400 juta pengguna Office disebut “berubah menjadi pengguna AI dalam semalam”. Unggahan tersebut menyebar cepat, ditonton jutaan kali, dan memicu kebingungan massal.

Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, cerita sebenarnya jauh lebih membosankan daripada judul viralnya.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Microsoft tidak menghapus Word, Excel, atau PowerPoint. Aplikasi-aplikasi itu masih ada, fungsinya tetap sama, dan masih menjadi tulang punggung produktivitas jutaan kantor, sekolah, dan bisnis. Yang berubah hanyalah nama aplikasi penghubung atau hub yang selama ini menjadi pintu masuk ke semua layanan tersebut, terutama di web dan perangkat mobile.

Beberapa tahun lalu, Microsoft mulai menggeser merek Office dan lebih menonjolkan nama Microsoft 365. Langkah ini bukan hal baru. Office perlahan diposisikan sebagai bagian dari paket layanan berlangganan, bukan lagi sebagai merek utama yang berdiri sendiri. Dalam proses itu, aplikasi Office Hub lebih dulu diganti menjadi Microsoft 365, lalu belakangan diperbarui lagi menjadi Microsoft 365 Copilot.

Di sinilah masalahnya. Nama Copilot juga dipakai Microsoft untuk menyebut asisten AI mereka. Ketika label ini ditempelkan hampir ke semua produk, banyak orang mengira seluruh ekosistem Office berubah total menjadi layanan berbasis AI. Narasi tersebut kemudian dipelintir di media sosial seolah-olah Microsoft memaksa ratusan juta pengguna menjadi “pengguna AI” tanpa pilihan.

Microsoft akhirnya angkat bicara. Mereka menegaskan tidak ada perubahan nama pada aplikasi inti Office. Word tetap Word, Excel tetap Excel, dan PowerPoint tetap PowerPoint. Yang berubah hanyalah nama aplikasi hub, agar mencerminkan perannya sebagai pusat akses ke fitur produktivitas dan Copilot dalam satu tempat.

Mengapa isu ini jadi penting?

Masalahnya bukan sekadar soal nama. Reaksi keras publik menunjukkan ada jarak komunikasi yang semakin lebar antara perusahaan teknologi besar dan penggunanya. Microsoft, seperti juga Google, sedang mendorong narasi “AI di mana-mana”. Bagi sebagian orang, ini terdengar menjanjikan. Bagi yang lain, justru memicu kekhawatiran soal privasi, keamanan data, dan kontrol pengguna.

Ketika istilah AI ditempelkan ke produk yang dipakai sehari-hari tanpa penjelasan yang jelas, pengguna awam mudah salah paham. Mereka bisa mengira dokumen pribadi kini otomatis dianalisis AI, atau kebiasaan kerja mereka dipantau sistem cerdas. Walaupun tidak selalu benar, kebingungan semacam ini cukup untuk menurunkan kepercayaan.

Kasus “Office is dead” juga menyoroti kelemahan lama Microsoft: penamaan produk yang berbelit dan sering berubah. Bahkan pengamat teknologi pun kerap harus menjelaskan ulang, mana Office, mana Microsoft 365, mana Copilot sebagai asisten, dan mana Copilot sebagai aplikasi hub.

Dampaknya bagi user

Bagi user harian, dampak langsungnya sebenarnya minimal. Anda tidak perlu panik atau buru-buru mencari alternatif Office. Aplikasi yang biasa dipakai masih ada dan tetap bisa digunakan seperti biasa. Namun, isu ini penting sebagai pengingat untuk lebih kritis terhadap informasi viral, terutama yang datang dari potongan klaim tanpa konteks.

Di sisi lain, tren ini memberi gambaran arah industri teknologi. AI akan terus disematkan ke produk yang sudah mapan, sering kali lewat perubahan branding sebelum perubahan fungsi benar-benar terasa. Pengguna perlu lebih waspada membaca kebijakan privasi, memahami fitur baru yang diaktifkan, dan memastikan mereka tahu apa yang sebenarnya berubah dan apa yang tidak.

Singkatnya, Office belum mati. Yang sedang terjadi adalah fase transisi merek dan strategi pemasaran Microsoft yang agresif, tapi kurang ramah bagi pemahaman publik. Bagi pembaca, pelajarannya jelas: jangan tertipu judul sensasional, dan selalu cek apa yang benar-benar berubah sebelum ikut panik.