Jutaan iPhone Terancam Dihack, Bukan Karena Bug Baru Tapi Karena Usernya

Selama ini iPhone dikenal sebagai salah satu ponsel paling aman di dunia. Apple kerap menekankan bahwa sistemnya tertutup, pembaruan datang serentak, dan celah keamanan cepat ditutup. Namun awal 2026 ini, muncul situasi yang justru berbalik arah. Ancaman serius sudah diakui Apple, perbaikan sudah tersedia, tetapi jutaan iPhone tetap dibiarkan terbuka terhadap serangan.

Masalahnya bukan karena Apple belum bekerja. Justru sebaliknya. Apple sudah menambal dua celah keamanan berbahaya yang diketahui telah dieksploitasi oleh pelaku serangan siber, termasuk kelompok spyware profesional. Celah ini memungkinkan penyerang menjalankan perintah berbahaya lewat konten web, tanpa perlu interaksi rumit dari korban. Dalam bahasa sederhana, iPhone bisa diambil alih hanya dengan membuka halaman tertentu.

Konteks pentingnya ada di sini. Perbaikan keamanan itu hanya tersedia di iOS 26. Pengguna yang masih bertahan di iOS 18 tidak lagi mendapatkan pembaruan keamanan terbaru, kecuali mereka memakai iPhone lama yang memang tidak bisa menjalankan iOS 26. Artinya, bagi sebagian besar pengguna iPhone modern, tidak ada jalan tengah. Tidak update berarti tetap rentan.

Yang mengejutkan, tingkat adopsi iOS 26 tergolong sangat lambat. Data dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa mayoritas pengguna iPhone belum berpindah ke sistem terbaru, bahkan setelah empat bulan dirilis. Angkanya bervariasi, tetapi gambaran besarnya sama. Ratusan juta perangkat masih berada di versi lama dan tidak terlindungi dari celah yang sudah diketahui publik.

Biasanya, ekosistem Apple dikenal disiplin soal pembaruan. Berbeda dengan Android yang tergantung produsen dan operator, iOS dirilis bersamaan untuk semua perangkat yang kompatibel. Namun kali ini, kebiasaan itu tidak berlaku. Banyak pengguna sengaja menunda, bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau.

Ada beberapa alasan yang beredar. Desain antarmuka baru Liquid Glass dianggap mengganggu dan menyulitkan navigasi. Sebagian pengguna juga khawatir dengan kehadiran Apple Intelligence, meski fitur kecerdasan buatan itu sebenarnya bersifat opsional dan bisa dimatikan. Ada pula yang sekadar tidak merasa perlu berubah karena iPhone mereka masih terasa normal.

Masalahnya, ancaman keamanan tidak menunggu selera pengguna. Begitu Apple merilis detail perbaikan, pelaku kejahatan digital justru semakin agresif. Mereka tahu persis perangkat mana yang belum diperbarui dan itulah target empuk. Pakar keamanan sepakat bahwa tidak ada pengaturan, kebiasaan, atau aplikasi tambahan yang bisa menggantikan patch resmi. Satu-satunya perlindungan nyata adalah memperbarui sistem.

Inilah yang membuat isu ini penting. Keamanan digital bukan lagi soal teori atau kemungkinan jauh. Serangan spyware modern menyasar individu, bukan hanya pejabat atau aktivis. Data pribadi, akses kamera, mikrofon, hingga akun keuangan bisa jadi pintu masuk. Semakin lama pengguna menunda pembaruan, semakin besar jendela risiko yang terbuka.

Bagi pembaca, dampaknya sangat langsung. Jika iPhone kamu masih menggunakan iOS lama padahal perangkatnya mendukung versi terbaru, maka kamu berada dalam posisi rawan tanpa sadar. Kekhawatiran soal tampilan atau AI bisa diatur kemudian, tetapi celah keamanan tidak bisa ditawar. Apple sendiri sudah memberi sinyal jelas bahwa perlindungan penuh kini mensyaratkan iOS 26.

Situasi ini juga menjadi cermin bagi Apple. Sistem keamanan sekuat apa pun akan kehilangan maknanya jika pengguna enggan mengikuti pembaruan. Pada akhirnya, keputusan ada di tangan pemilik iPhone masing-masing. Bertahan dengan tampilan lama mungkin terasa nyaman, tetapi risikonya kini jauh lebih nyata dibanding sebelumnya.