Banyak pekerja kantoran membayangkan hidup yang lebih bebas jika keluar dari pekerjaan tetap dan membangun usaha sendiri. Gambaran yang sering muncul adalah kebebasan mengatur waktu, menjadi pengambil keputusan utama, serta potensi penghasilan yang jauh lebih besar. Namun pengalaman seorang pendiri perusahaan kecerdasan buatan di bidang hukum menunjukkan bahwa realitasnya tidak selalu semudah yang dibayangkan.
Logan Brown, pendiri perusahaan layanan hukum berbasis AI bernama Soxton, justru merasakan beban kerja yang lebih berat setelah meninggalkan kariernya sebagai pengacara di firma hukum besar. Waktu kerja yang panjang sebenarnya sudah menjadi bagian dari dunia hukum korporat, tetapi menurutnya tanggung jawab sebagai pendiri membuat tekanan kerja meningkat. Jam kerja menjadi lebih panjang karena seluruh arah bisnis, strategi, dan operasional berada di tangannya.
Sejak awal, Brown memang telah meniti karier di dunia hukum. Ketertarikannya dimulai sejak usia sekolah ketika mendapat kesempatan magang di kantor jaksa di kota asalnya. Prestasi akademiknya kemudian membawanya menjadi lulusan terbaik dari Vanderbilt University sebelum melanjutkan pendidikan di Harvard Law School. Setelah lulus, ia bekerja sebagai associate di firma hukum internasional Cooley LLP di Silicon Valley yang dikenal menangani klien perusahaan teknologi.
Meski jalur kariernya sudah sangat mapan, Brown memutuskan keluar dari firma tersebut setelah dua tahun bekerja. Pada 2024 ia mendirikan Soxton, sebuah perusahaan yang menawarkan layanan hukum bagi startup dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Keputusan tersebut berarti meninggalkan stabilitas finansial dan kenyamanan pekerjaan tetap.
Sebagai pendiri perusahaan, ia kini menghadapi berbagai tanggung jawab baru. Selain menangani aspek hukum, ia juga harus mengurus strategi bisnis, pengembangan produk, pendanaan, serta manajemen tim. Pekerjaan tidak lagi sekadar menyelesaikan tugas hukum, tetapi mencakup seluruh proses membangun perusahaan dari awal.
Meski jam kerja meningkat dan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi hampir tidak ada, Brown merasa pekerjaannya kini memiliki makna yang lebih besar. Ia menilai kerja keras tersebut terasa lebih memuaskan karena perusahaan yang dibangun memberikan dampak langsung bagi para klien, terutama startup yang sedang berkembang.
Perubahan karier ini juga membawa konsekuensi finansial. Penghasilan yang diperoleh sebagai pendiri tidak lebih besar dibanding saat bekerja di firma hukum. Bahkan untuk sementara waktu ia harus menerima penurunan pendapatan. Namun kepemilikan atas perusahaan serta kesempatan membangun sesuatu dari nol menjadi alasan utama mengapa ia tetap memilih jalur tersebut.
Keputusan meninggalkan pekerjaan tetap untuk membangun startup memang penuh risiko. Banyak perusahaan rintisan tidak berhasil mencapai keuntungan atau bahkan gagal bertahan. Data dari Harvard Business Review menunjukkan lebih dari dua pertiga startup tidak mampu memberikan keuntungan bagi investor mereka. Hal ini menggambarkan bahwa dunia kewirausahaan tidak selalu menjanjikan kesuksesan cepat.
Bagi Brown, keputusan tersebut muncul dari kombinasi beberapa faktor. Salah satunya adalah perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan yang diperkirakan akan mengubah cara kerja industri hukum. Sebuah studi pada 2025 menunjukkan sebagian besar profesional hukum memperkirakan AI akan membawa perubahan besar pada praktik hukum dalam beberapa tahun ke depan.
Pengalamannya bekerja dengan perusahaan teknologi di Silicon Valley membuatnya melihat peluang besar di persimpangan antara dunia hukum dan teknologi. Selain itu, ia juga memiliki latar belakang teknis karena sudah mempelajari pemrograman sejak usia muda. Kombinasi pengalaman hukum dan pemahaman teknologi tersebut memberinya keyakinan untuk membangun perusahaan berbasis AI.
Soxton sendiri mulai menarik perhatian setelah memperoleh pendanaan awal sebesar 2,5 juta dolar dari sejumlah investor teknologi. Perusahaan ini telah melayani ratusan startup dan masih memiliki daftar tunggu yang cukup panjang. Hal ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan terhadap layanan hukum yang lebih cepat dan efisien melalui teknologi.
Perkembangan tersebut juga mencerminkan perubahan yang sedang terjadi dalam industri hukum. Selama bertahun-tahun, sektor ini dikenal konservatif dan lambat beradaptasi dengan teknologi baru. Namun kehadiran AI mulai membuka kemungkinan baru dalam penyediaan layanan hukum yang lebih terjangkau dan mudah diakses.
Pengalaman Brown memberikan gambaran yang lebih realistis tentang kehidupan sebagai pendiri perusahaan. Kebebasan yang sering dibayangkan dalam dunia kewirausahaan ternyata datang bersama tanggung jawab yang jauh lebih besar. Jam kerja yang panjang, ketidakpastian finansial, dan tekanan untuk membuat keputusan strategis menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan tersebut.
Di sisi lain, perubahan ini juga menunjukkan bagaimana teknologi baru dapat membuka peluang karier yang sebelumnya tidak terpikirkan. Transformasi digital, terutama dalam bidang kecerdasan buatan, berpotensi mengubah banyak industri tradisional dalam satu dekade mendatang, termasuk sektor hukum yang selama ini sangat bergantung pada metode kerja konvensional.

