Banyak orang merasa aman saat membuka jendela Incognito di browser. Mode ini sering dianggap sebagai tameng tambahan untuk menjaga privasi ketika berselancar di internet. Riwayat pencarian tidak tersimpan, cookie terhapus setelah jendela ditutup, dan aktivitas tidak tercatat di perangkat. Kesan yang muncul adalah aktivitas online menjadi anonim.
Pandangan itu berubah ketika praktik yang disebut browser fingerprinting semakin dikenal luas.
Secara sederhana, fingerprinting adalah teknik pelacakan yang memanfaatkan karakteristik unik perangkat dan browser. Konsepnya mirip dengan sidik jari biologis yang membedakan satu individu dengan individu lain. Bedanya, yang dikumpulkan bukan DNA, melainkan data teknis seperti resolusi layar, jenis kartu grafis, zona waktu, bahasa sistem, sistem operasi, hingga konfigurasi perangkat lunak tertentu.
Saat sebuah situs dibuka, skrip seperti JavaScript dapat mengumpulkan informasi tersebut secara otomatis. Data itu kemudian dikombinasikan dan diproses menjadi sebuah identitas digital unik. Identitas ini tidak selalu memuat nama atau alamat, tetapi cukup akurat untuk mengenali satu perangkat yang sama dari waktu ke waktu. Dengan cara ini, aktivitas penelusuran dapat dipantau meskipun cookie dihapus atau riwayat dibersihkan.
Di sinilah letak kesalahpahaman tentang Incognito. Mode privat tidak menghentikan situs mengumpulkan data teknis ketika halaman dimuat. Fungsinya lebih terbatas pada penyimpanan data lokal. Riwayat, cache, dan cookie hanya ditempatkan di profil sementara dan akan terhapus ketika semua jendela ditutup. Namun proses pengumpulan data oleh situs tetap berlangsung seperti biasa.
Perbedaan ini penting dipahami karena banyak orang mengandalkan Incognito untuk alasan keamanan dan kerahasiaan. Padahal, fingerprinting bekerja secara real time di sisi situs, bukan di sisi penyimpanan lokal browser. Artinya, meskipun riwayat tidak tercatat di perangkat, jejak digital tetap bisa dikenali oleh pihak ketiga.
Isu ini semakin relevan di tengah meningkatnya industri periklanan digital dan analitik data. Informasi mengenai kebiasaan menjelajah internet bernilai tinggi bagi pengiklan karena memungkinkan penayangan iklan yang sangat terarah. Walau tidak semua perusahaan menjual atau menyalahgunakan data, sulit memastikan praktik masing masing pihak.
Kesadaran tentang fingerprinting mendorong sebagian pengguna beralih ke peramban dengan perlindungan pelacakan yang lebih ketat, seperti Brave atau Mozilla Firefox. Beberapa di antaranya menawarkan pemblokiran fingerprinting secara otomatis atau menyediakan pengaturan lanjutan untuk membatasi pelacakan. Sementara itu, browser populer seperti Google Chrome dan Microsoft Edge tetap mengandalkan pendekatan perlindungan yang dinilai belum sepenuhnya agresif terhadap teknik ini.
Meski begitu, tidak ada solusi yang benar benar sempurna. Menonaktifkan fitur tertentu seperti JavaScript atau WebGL memang bisa mengurangi sinyal pelacakan, tetapi berisiko merusak fungsi banyak situs. Ironisnya, konfigurasi yang terlalu unik justru dapat membuat perangkat semakin mudah dikenali karena tampil berbeda dari kebanyakan pengguna.
Realitas ini menunjukkan bahwa privasi digital bukan sekadar menekan tombol Incognito. Pemahaman tentang cara kerja pelacakan menjadi kunci untuk mengambil langkah yang lebih tepat. Bagi masyarakat luas, dampaknya sangat nyata. Data perilaku daring dapat memengaruhi iklan yang muncul, rekomendasi konten, hingga harga produk yang ditawarkan secara personal.
Kesadaran dan pilihan alat yang digunakan saat berselancar akan menentukan seberapa besar kontrol yang dimiliki atas jejak digital sendiri. Incognito mungkin masih berguna untuk menyembunyikan aktivitas dari orang lain yang menggunakan perangkat yang sama. Namun untuk urusan pelacakan tingkat lanjut, pendekatan yang lebih komprehensif diperlukan.

