Konferensi AI Paling Bergengsi Kecolongan Rujukan Palsu

Konferensi Neural Information Processing Systems atau NeurIPS dikenal sebagai salah satu panggung paling bergengsi dalam dunia kecerdasan buatan. Ajang tahunan ini bukan sekadar forum akademik, tetapi juga arena strategis bagi peneliti untuk membangun reputasi, membuka peluang kerja, dan menarik perhatian laboratorium AI papan atas dunia. Namun, laporan terbaru memunculkan pertanyaan serius tentang kualitas proses ilmiah di balik kemegahan tersebut.

Sebuah analisis yang dilakukan startup Kanada GPTZero menemukan ratusan sitasi bermasalah dalam makalah yang telah lolos seleksi dan dipresentasikan di NeurIPS 2025. Dari lebih dari 4.000 makalah yang ditelaah, sedikitnya 53 di antaranya mengandung rujukan yang ternyata tidak pernah ada atau telah diubah sedemikian rupa sehingga tidak sesuai dengan karya ilmiah asli. Kesalahan ini bukan ditemukan pada tahap pengajuan awal, melainkan pada makalah yang sudah resmi diterima dan masuk prosiding konferensi.

Bentuk kesalahannya beragam. Ada rujukan yang sepenuhnya fiktif, seperti nama penulis yang tidak pernah ada, judul makalah rekaan, hingga jurnal dan tautan yang tidak bisa dilacak. Ada pula kasus yang lebih samar, ketika sistem AI tampaknya mengambil makalah nyata lalu mengubah detail penting, misalnya menambahkan penulis yang tidak terlibat, mengubah judul, atau menebak nama depan dari inisial. Kesalahan-kesalahan ini dinilai tidak lazim dilakukan manusia, tetapi kerap muncul dari keluaran model bahasa besar.

NeurIPS sendiri mengakui bahwa penggunaan sistem AI dalam penulisan makalah ilmiah berkembang sangat cepat. Panitia konferensi menyatakan telah meminta penelaah untuk menandai halusinasi semacam ini, namun juga menilai bahwa keberadaan rujukan keliru tidak serta-merta membatalkan isi riset secara keseluruhan. Meski begitu, temuan ini tetap menimbulkan kegelisahan karena secara tradisional satu sitasi palsu saja bisa menjadi alasan penolakan dalam dunia akademik.

Isu ini menjadi penting karena sitasi bukan sekadar formalitas. Rujukan adalah fondasi yang menghubungkan riset baru dengan pengetahuan sebelumnya, sekaligus alat utama untuk memeriksa ulang dan mereproduksi temuan. Dalam bidang AI yang dikenal sulit direplikasi, ketepatan sitasi berperan besar dalam menjaga kepercayaan ilmiah. Ketika rujukan mengarah pada karya yang tidak ada, proses verifikasi menjadi mustahil.

Masalah ini juga mencerminkan tekanan struktural yang semakin berat. Jumlah makalah yang masuk ke NeurIPS melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir, mencapai lebih dari 21.000 pengajuan pada 2025. Dengan skala sebesar itu, pemeriksaan mendalam terhadap setiap detail, termasuk daftar pustaka, menjadi tantangan besar bagi sistem peninjauan yang bergantung pada ribuan penelaah sukarelawan.

Bagi dunia riset dan industri, dampaknya tidak sepele. Makalah yang keliru bisa memengaruhi reputasi penulis, kredibilitas konferensi, hingga keputusan perekrutan di perusahaan teknologi yang menjadikan publikasi sebagai indikator kualitas. Di sisi lain, temuan ini juga menjadi peringatan bahwa penggunaan AI sebagai alat bantu penulisan membutuhkan pengawasan manusia yang jauh lebih ketat, terutama pada bagian-bagian yang menyangkut fakta dan rujukan.

Kasus NeurIPS menunjukkan bahwa kemajuan AI tidak hanya membawa percepatan inovasi, tetapi juga risiko baru bagi integritas ilmiah. Tanpa mekanisme verifikasi yang kuat, kesalahan kecil dari mesin dapat dengan mudah masuk ke catatan resmi ilmu pengetahuan dan memengaruhi ekosistem yang jauh lebih luas.