Mainan Boneka AI Bocorkan Data Pribadi Anak, Puluhan Ribu Percakapan Terbuka Bebas

Sebuah boneka pintar berbasis kecerdasan buatan mendadak menjadi sorotan setelah terungkap bahwa puluhan ribu percakapan anak-anak tersimpan tanpa perlindungan memadai dan dapat diakses siapa saja yang memiliki akun Gmail. Peristiwa ini membuka kembali perdebatan tentang keamanan data dan privasi dalam penggunaan mainan digital untuk anak.

Produk tersebut dibuat oleh perusahaan rintisan bernama Bondu, yang menghadirkan boneka interaktif dengan kemampuan berbicara layaknya teman imajiner. Mainan ini dirancang untuk menemani anak dalam berkomunikasi sehari-hari, menjawab pertanyaan, hingga merespons emosi. Melalui sistem berbasis AI, setiap percakapan disimpan dan dianalisis agar interaksi berikutnya terasa lebih personal.

Masalah muncul ketika dua peneliti keamanan siber menemukan bahwa portal internal milik Bondu hampir sepenuhnya terbuka. Tanpa perlu meretas sistem, mereka hanya masuk menggunakan akun Google biasa dan langsung mendapatkan akses ke riwayat obrolan anak-anak yang menggunakan boneka tersebut. Di dalamnya tersimpan lebih dari 50 ribu catatan percakapan, lengkap dengan nama, usia, tanggal lahir, informasi keluarga, kesukaan, hingga cerita pribadi yang diungkapkan anak kepada bonekanya.

Penemuan ini menjadi alarm keras karena data yang bocor bukan sekadar angka atau statistik, melainkan potongan kehidupan pribadi anak-anak. Informasi semacam ini berpotensi disalahgunakan untuk manipulasi, penipuan, bahkan kejahatan serius. Para peneliti menilai paparan data sedetail itu dapat membuka peluang eksploitasi yang sangat berbahaya, terutama mengingat subjeknya adalah anak di bawah umur.

Setelah dihubungi, pihak Bondu segera menutup celah keamanan tersebut dan mengklaim telah melakukan perbaikan dalam hitungan jam. Perusahaan juga menyatakan tidak menemukan bukti adanya pihak lain yang mengakses data tersebut. Meski begitu, insiden ini tetap meninggalkan pertanyaan besar tentang bagaimana sistem keamanan dirancang, seberapa ketat pengawasan internal dilakukan, serta sejauh mana perlindungan data anak benar-benar menjadi prioritas.

Kejadian ini penting karena menyoroti sisi gelap dari perkembangan teknologi mainan pintar. Di satu sisi, AI menawarkan pengalaman belajar dan bermain yang lebih interaktif. Di sisi lain, setiap percakapan yang direkam dan disimpan menciptakan risiko baru, terutama ketika pengamanan sistem tidak sebanding dengan sensitivitas data yang dikumpulkan.

Dampaknya terasa luas, khususnya bagi keluarga yang mulai mengandalkan teknologi sebagai sarana hiburan dan edukasi anak. Kepercayaan terhadap produk digital dapat terkikis jika keamanan tidak dikelola dengan serius. Insiden ini juga menjadi peringatan bahwa inovasi tanpa fondasi perlindungan data yang kuat justru dapat membawa ancaman baru, bukan manfaat.

Lebih jauh, kasus ini menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam memilih produk berbasis AI untuk anak. Transparansi perusahaan, standar keamanan, serta pengelolaan data harus menjadi pertimbangan utama, bukan sekadar fitur canggih atau tampilan menarik. Tanpa itu, teknologi yang seharusnya membantu tumbuh kembang justru berpotensi menjadi pintu masuk bagi risiko besar terhadap privasi dan keselamatan.