Mantan Ilmuwan AI Meta Kumpulkan Rp16 Triliun, Proyek AI Baru Yann LeCun Ini Bukan ChatGPT

Laboratorium kecerdasan buatan baru bernama Advanced Machine Intelligence Labs (AMI Labs) langsung menarik perhatian dunia teknologi setelah berhasil mengamankan pendanaan sebesar 1,03 miliar dolar AS. Nilai perusahaan ini diperkirakan mencapai 3,5 miliar dolar sebelum investasi tersebut masuk. Proyek ini didirikan oleh sejumlah tokoh penting di bidang AI, termasuk peraih Turing Award, Yann LeCun, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu ilmuwan utama di Meta.

Berbeda dari gelombang perusahaan AI yang fokus pada model bahasa besar, AMI Labs memilih jalur yang lebih mendasar. Perusahaan ini mengembangkan konsep yang dikenal sebagai world models, yaitu sistem kecerdasan buatan yang belajar memahami dunia nyata melalui pengalaman dan interaksi dengan data dari lingkungan nyata, bukan hanya dari teks.

Pendekatan ini muncul dari kesadaran bahwa model bahasa seperti chatbot modern memiliki keterbatasan serius. Sistem tersebut sering menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan tetapi sebenarnya tidak akurat, sebuah fenomena yang sering disebut sebagai halusinasi AI. Dalam beberapa bidang sensitif seperti layanan kesehatan, kesalahan semacam ini berpotensi membawa konsekuensi yang sangat berbahaya.

CEO AMI Labs, Alexandre LeBrun, menilai bahwa masa depan kecerdasan buatan membutuhkan sistem yang benar-benar memahami realitas fisik dan sebab-akibat di dunia nyata. Oleh karena itu, AMI Labs membangun teknologi yang didasarkan pada arsitektur bernama Joint Embedding Predictive Architecture atau JEPA, konsep yang diperkenalkan oleh Yann LeCun pada tahun 2022. Tujuannya adalah menciptakan AI yang mampu memprediksi bagaimana dunia bekerja, bukan sekadar menebak kata berikutnya dalam sebuah kalimat.

Pendekatan ini membuat AMI Labs berbeda dari banyak startup AI yang biasanya bergerak cepat untuk merilis produk dan mengejar pendapatan dalam waktu singkat. Pengembangan world models justru dimulai dari penelitian fundamental yang bisa memakan waktu bertahun-tahun sebelum menjadi aplikasi komersial.

Meski jalannya panjang, minat investor terhadap teknologi ini sangat besar. Pendanaan AMI Labs dipimpin oleh sejumlah firma investasi besar seperti Cathay Innovation, Greycroft, HV Capital, dan Hiro Capital. Selain itu, dukungan juga datang dari tokoh teknologi seperti Eric Schmidt, Mark Cuban, serta pasangan internet pioneer Tim Berners-Lee dan Rosemary Leith.

Beberapa perusahaan teknologi besar juga ikut mendukung, termasuk NVIDIA, Samsung, dan Toyota Ventures. Dukungan ini menunjukkan bahwa banyak pihak melihat potensi besar pada generasi AI berikutnya yang mampu memahami lingkungan secara lebih mendalam.

Dana yang diperoleh akan digunakan untuk dua kebutuhan utama dalam pengembangan AI modern, yaitu komputasi skala besar dan perekrutan peneliti kelas dunia. AMI Labs berencana membangun tim di empat pusat utama yaitu Paris sebagai kantor pusat, kemudian New York, Montreal, dan Singapore. Lokasi-lokasi ini dipilih karena menjadi pusat talenta AI global sekaligus dekat dengan calon mitra industri.

Walaupun belum memiliki rencana pendapatan dalam waktu dekat, AMI Labs tetap ingin menguji teknologi yang dikembangkan dalam situasi dunia nyata. Salah satu mitra awal yang diumumkan adalah Nabla, perusahaan kesehatan digital yang dipimpin oleh LeBrun sebelumnya. Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah awal untuk melihat bagaimana world models dapat digunakan dalam bidang medis.

Perkembangan ini menandai fase baru dalam perlombaan kecerdasan buatan. Setelah beberapa tahun didominasi oleh model bahasa besar, perhatian industri mulai bergeser ke teknologi yang berupaya memahami dunia secara lebih komprehensif. Jika pendekatan ini berhasil, AI di masa depan tidak hanya mampu berbicara dan menulis, tetapi juga memahami lingkungan, memprediksi peristiwa, dan membantu mengambil keputusan yang lebih akurat dalam kehidupan nyata.

Di tengah persaingan teknologi yang semakin ketat, langkah AMI Labs menunjukkan bahwa penelitian dasar masih memiliki peran penting dalam menentukan arah masa depan kecerdasan buatan.