Perkembangan internet dan media sosial dalam dua dekade terakhir telah mengubah cara masyarakat menerima dan menyebarkan informasi. Namun perubahan tersebut juga membawa konsekuensi besar: informasi yang menyesatkan kini bisa menyebar jauh lebih cepat dibandingkan fakta yang akurat.
Hal ini disampaikan oleh Claire Wardle, peneliti yang telah lebih dari satu dekade mempelajari misinformasi dan cara penyebarannya di ruang digital. Menurutnya, ekosistem informasi modern semakin dipenuhi konten yang bersifat emosional, sensasional, dan sering kali tidak sepenuhnya benar.
Wardle menjelaskan bahwa situasi ini sangat berbeda dibandingkan awal kariernya sekitar tahun 2007. Pada masa itu, kasus hoaks yang menipu media arus utama masih relatif jarang terjadi. Kini, dengan kehadiran media sosial dan teknologi kecerdasan buatan, penyebaran informasi palsu meningkat secara drastis.
Fenomena tersebut tidak selalu disebabkan oleh banyaknya pihak yang sengaja menciptakan informasi palsu. Jumlah pelaku yang secara aktif menyebarkan disinformasi sebenarnya relatif kecil. Namun masalah muncul karena pengguna internet sering membagikan konten tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Algoritma platform digital juga berperan besar dalam mempercepat penyebaran konten yang memicu emosi. Konten yang membuat orang marah, takut, atau merasa benar biasanya mendapat lebih banyak interaksi. Sistem algoritma kemudian mempromosikan konten semacam itu karena dianggap menarik perhatian pengguna.
Kondisi tersebut menciptakan lingkungan informasi yang terpecah menjadi berbagai kelompok dengan pandangan berbeda. Dalam situasi seperti ini, orang cenderung mempercayai informasi yang memperkuat keyakinan yang sudah dimiliki sebelumnya.
Wardle juga menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “sisi paling kotor internet”. Istilah ini merujuk pada komunitas online yang dipenuhi teori konspirasi, konten anti-vaksin, atau berbagai narasi yang tidak didukung bukti ilmiah.
Menariknya, komunitas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat berbagi informasi, tetapi juga sebagai ruang sosial. Banyak orang merasa didengar dan diterima ketika bergabung dalam komunitas semacam itu. Mereka dapat berbagi pengalaman pribadi, melakukan diskusi, dan merasa menjadi bagian dari kelompok yang memiliki pandangan serupa.
Rasa kebersamaan inilah yang sering kali membuat narasi di dalam komunitas tersebut semakin kuat. Ketika seseorang datang dengan “hasil riset sendiri”, anggota lain mungkin akan merespons dengan dukungan, meskipun informasi tersebut belum tentu akurat.
Selain faktor psikologis dan sosial, aspek ekonomi juga memainkan peran penting dalam penyebaran misinformasi. Internet memungkinkan seseorang memperoleh penghasilan melalui iklan, konten viral, atau penjualan produk. Konten yang sensasional sering kali lebih mudah menarik perhatian, sehingga memberikan insentif finansial bagi pembuatnya.
Dalam beberapa kasus, misinformasi digunakan untuk mempromosikan produk tertentu, seperti suplemen kesehatan atau metode pengobatan yang belum terbukti secara ilmiah. Ketika konten tersebut menarik banyak klik, pembuatnya dapat memperoleh keuntungan dari iklan atau penjualan produk.
Untuk mengatasi masalah ini, Wardle menekankan pentingnya literasi media. Literasi media tidak hanya berarti memahami cara membaca berita, tetapi juga memahami bagaimana emosi, algoritma, dan kepentingan ekonomi dapat memengaruhi informasi yang beredar di internet.
Pendidikan literasi media juga tidak seharusnya hanya terjadi di ruang kelas. Diskusi mengenai cara menilai informasi dapat berlangsung di berbagai ruang sosial, mulai dari komunitas lokal hingga forum daring.
Selain itu, institusi seperti media, universitas, dan lembaga pemerintah juga perlu mengembangkan pendekatan komunikasi yang lebih terbuka. Banyak orang kini tidak lagi secara otomatis mempercayai otoritas tradisional. Mereka ingin merasa didengar dan terlibat dalam percakapan, bukan sekadar menerima informasi satu arah.
Pendekatan yang lebih partisipatif dinilai dapat membantu membangun kembali kepercayaan publik terhadap informasi yang kredibel. Dalam ekosistem digital yang semakin kompleks, menciptakan ruang diskusi yang transparan dan inklusif menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak misinformasi.

