Pemerintah Mulai Selidiki Ancaman Kesehatan dari Radiasi Ponsel

Pemerintah Amerika Serikat kembali membuka perdebatan lama soal keamanan ponsel. Kementerian Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS atau HHS mengumumkan akan melakukan kajian baru untuk menilai apakah paparan radiasi dari ponsel dan teknologi nirkabel lain berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat.

Langkah ini muncul di tengah penggunaan perangkat nirkabel yang semakin masif dalam kehidupan sehari-hari. Ponsel tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi sudah menjadi bagian dari pekerjaan, hiburan, navigasi, hingga pemantauan kesehatan melalui perangkat wearable. Di saat yang sama, infrastruktur pendukung seperti jaringan Wi-Fi, menara pemancar, dan teknologi generasi terbaru terus berkembang.

Kajian yang akan dilakukan HHS berangkat dari laporan strategi yang dirilis tahun lalu oleh komisi kesehatan pemerintahan Presiden Donald Trump. Laporan tersebut mendorong pemerintah untuk meninjau ulang pengetahuan ilmiah tentang paparan radiasi elektromagnetik, terutama karena munculnya teknologi baru yang belum banyak diteliti secara mendalam. Tujuannya bukan sekadar mencari risiko, tetapi juga mengidentifikasi celah pengetahuan agar standar keselamatan tetap relevan dengan kondisi saat ini.

Perhatian terhadap isu ini sebenarnya bukan hal baru. Pada 2018, sebuah penelitian besar yang dilakukan lembaga riset kesehatan federal AS menemukan bukti kuat bahwa paparan radiasi frekuensi radio dalam tingkat tinggi berkaitan dengan munculnya kanker pada tikus jantan. Namun, para peneliti menegaskan bahwa kondisi eksperimen tersebut sangat berbeda dengan penggunaan ponsel pada manusia. Hewan uji terpapar radiasi di seluruh tubuh dengan durasi dan intensitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan paparan lokal yang umumnya terjadi saat seseorang menggunakan ponsel.

Penelitian tersebut juga tidak mencakup radiasi yang digunakan pada jaringan Wi-Fi maupun teknologi 5G. Artinya, hasil riset lama belum mampu menjawab semua pertanyaan yang muncul seiring perkembangan teknologi nirkabel saat ini. Inilah yang menjadi salah satu alasan pemerintah menilai perlunya kajian lanjutan.

Kekhawatiran dari kalangan pejabat pun mencuat. Menteri Kesehatan AS, Robert F. Kennedy Jr., secara terbuka menyebut radiasi elektromagnetik sebagai isu kesehatan yang patut diperhatikan dan menyatakan kekhawatiran pribadinya. Pernyataan ini memberi sinyal bahwa pemerintah ingin mengambil sikap lebih berhati-hati, meski belum ada kesimpulan baru yang mengubah standar keselamatan yang berlaku.

Di sisi lain, industri telekomunikasi menolak anggapan bahwa perangkat nirkabel membahayakan kesehatan. Perwakilan asosiasi operator seluler menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang kredibel yang mengaitkan ponsel, Wi-Fi, atau Bluetooth dengan masalah kesehatan. Pandangan ini sejalan dengan pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia yang menyebut belum ada dampak kesehatan merugikan yang terbukti secara sebab-akibat akibat paparan teknologi nirkabel.

Di Amerika Serikat, setiap ponsel yang dijual wajib memenuhi batas paparan radiasi yang ditetapkan Komisi Komunikasi Federal. Pengujian dilakukan menggunakan ukuran penyerapan energi oleh tubuh, dengan ambang batas yang dinilai aman berdasarkan pengetahuan ilmiah saat ini. Otoritas tersebut juga menyatakan belum ada bukti pasti yang menghubungkan penggunaan perangkat nirkabel dengan kanker atau penyakit lain.

Meski demikian, regulator tetap menganjurkan langkah pencegahan sederhana, seperti mengurangi durasi penggunaan, memakai pengeras suara atau earphone, serta menjaga jarak antara perangkat dan tubuh. Rekomendasi ini lebih bersifat kehati-hatian daripada peringatan bahaya.

Bagi masyarakat luas, kajian baru ini penting karena menyangkut teknologi yang digunakan hampir setiap hari. Hasil penelitian di masa depan dapat memengaruhi kebijakan kesehatan, standar keselamatan perangkat, hingga cara orang berinteraksi dengan teknologi. Terlepas dari apakah risiko baru ditemukan atau tidak, langkah pemerintah ini menandai upaya untuk menyesuaikan kebijakan kesehatan dengan realitas digital yang terus berubah.