Peneliti Temukan Fakta Aneh, Chatbot AI Lebih Pintar Saat Kita Galak

Sejak asisten digital mulai hadir di rumah dan ponsel, banyak orang terbiasa memperlakukannya dengan sopan. Anak-anak diajari mengucapkan “tolong” dan “terima kasih” kepada Alexa atau Siri, seolah mesin juga perlu diajari etika. Kebiasaan ini terbawa hingga era chatbot canggih seperti ChatGPT. Namun, sebuah temuan riset terbaru justru memunculkan pertanyaan tak terduga: bagaimana jika sikap kasar justru membuat AI bekerja lebih akurat?

Penelitian yang dilakukan dua peneliti dari University of Pennsylvania mencoba menguji pengaruh nada bahasa terhadap kinerja model ChatGPT-4o. Mereka tidak mengubah isi pertanyaannya, hanya cara bertanyanya. Lima puluh pertanyaan dasar dari berbagai topik ditulis ulang dengan lima variasi nada, mulai dari sangat sopan hingga sangat kasar, termasuk kalimat bernada merendahkan.

Hasilnya cukup mengejutkan. Ketika nada pertanyaan semakin tidak sopan, tingkat ketepatan jawaban justru meningkat. Prompt yang paling kasar menghasilkan akurasi tertinggi, sementara pertanyaan yang terlalu halus dan penuh basa-basi justru menunjukkan performa paling rendah. Temuan ini bertolak belakang dengan anggapan umum bahwa AI merespons lebih baik jika diperlakukan dengan ramah.

Konteks temuan ini penting karena selama ini banyak riset menyebutkan hal sebaliknya. Studi-studi sebelumnya menunjukkan bahwa sikap kasar dapat menurunkan kualitas jawaban AI, sementara nada suportif atau seperti guru pembimbing justru membantu, terutama dalam soal-soal logika atau matematika dasar. Ada pula temuan bahwa kesopanan yang berlebihan bisa membuat performa AI menurun, seolah model kebingungan memproses lapisan bahasa sosial yang terlalu tebal.

Perbedaan hasil ini mengungkap satu hal krusial: AI bahasa sangat sensitif terhadap detail kecil dalam perintah. Perubahan satu atau dua kata, bahkan hanya nuansa emosional, bisa menggeser hasil secara signifikan. Ini mempertegas masalah lama dalam penggunaan chatbot, yaitu ketidakpastian. Dua pertanyaan yang tampak serupa bisa menghasilkan jawaban yang jauh berbeda, membuat AI sulit diandalkan sebagai sumber tunggal kebenaran.

Bagi pembaca awam, temuan ini penting karena menunjukkan bahwa interaksi dengan AI bukan sekadar soal apa yang ditanyakan, tetapi bagaimana cara bertanya. Di balik tampilan percakapan yang terasa manusiawi, sistem ini tetap mesin statistik yang membaca pola bahasa, bukan perasaan. Nada kasar bisa jadi memicu respons yang lebih langsung dan ringkas, sementara bahasa terlalu sopan justru memperpanjang jalur pemrosesan.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil ini bukan ajakan untuk bersikap kejam pada mesin. Dalam penggunaan nyata, antarmuka yang penuh hinaan berpotensi menciptakan pengalaman yang buruk, mengurangi inklusivitas, dan menormalisasi gaya komunikasi yang tidak sehat. Apalagi, AI semakin sering digunakan di pendidikan, layanan publik, dan dunia kerja.

Dampaknya bagi pembaca cukup praktis. Jika tujuan Anda adalah mendapatkan jawaban yang jelas, fokuslah pada kejelasan dan ketegasan, bukan pada sikap merendahkan. Temuan ini lebih tepat dibaca sebagai pelajaran tentang desain bahasa dan keterbatasan AI, bukan sebagai pembenaran untuk berkata kasar. Pada akhirnya, cara kita berbicara dengan mesin juga membentuk cara kita berkomunikasi satu sama lain.