Beberapa tahun lalu, saham Carvana nyaris tak dilirik investor dan bahkan sempat dianggap sebagai perusahaan yang tinggal menunggu waktu menuju kebangkrutan. Namun pada 2025, arah cerita berubah drastis. Peritel mobil digital tersebut resmi bergabung ke dalam indeks bergengsi S&P 500, menandai salah satu kisah kebangkitan paling mencolok di pasar saham Amerika Serikat.
Carvana akan mulai diperdagangkan sebagai komponen S&P 500 pada 22 Desember, bersama CRH dan Comfort Systems USA, sesuai pengumuman S&P Global. Masuknya Carvana ke indeks acuan ini terasa kontras dengan kondisi perusahaan hanya beberapa tahun sebelumnya, ketika sahamnya sempat diperdagangkan di bawah USD 4 per lembar.
Perjalanan Carvana menuju titik ini tidaklah mulus. Perusahaan melantai di bursa pada 2017 dengan harga IPO USD 15, namun sahamnya justru ditutup lebih rendah pada hari pertama perdagangan. Dalam beberapa tahun berikutnya, Carvana berkembang agresif dengan memperluas pasar dan membangun jaringan mesin penjual mobil otomatis yang menjadi ciri khasnya. Penjualan meningkat tajam, dari USD 859 juta pada 2017 menjadi hampir USD 4 miliar pada 2019. Meski demikian, lonjakan biaya membuat perusahaan tetap belum mencetak keuntungan.
Momentum besar datang saat pandemi Covid-19 melanda. Gangguan rantai pasok global menekan produksi mobil baru dan mendorong kenaikan harga mobil bekas. Di saat yang sama, pola belanja daring menjadi pilihan utama konsumen di Amerika Serikat. Kondisi ini menciptakan peluang ideal bagi Carvana. Dalam dua tahun pertama pandemi, penjualan perusahaan melonjak tiga kali lipat. Sahamnya pun melesat, dari sekitar USD 29 pada Maret 2020 menjadi rekor USD 370 pada Agustus 2021.
Namun euforia tersebut tidak bertahan lama. Beban utang Carvana meningkat tajam, dan situasi memburuk ketika Federal Reserve mulai menaikkan suku bunga pada 2022 untuk meredam inflasi. Biaya bunga membengkak, sementara permintaan mobil melemah seiring normalisasi pasar pascapandemi. Tekanan ini membuat saham Carvana anjlok hampir tanpa sisa, mencapai titik terendah sepanjang sejarah di USD 3,72 pada Desember 2022. Pada periode itu, banyak analis Wall Street secara terbuka meragukan kelangsungan bisnis perusahaan.
Titik balik terjadi pada tahun berikutnya. Manajemen Carvana meluncurkan program efisiensi besar-besaran, termasuk pemutusan hubungan kerja dan restrukturisasi operasional. Perusahaan juga mencapai kesepakatan dengan para kreditur untuk meringankan beban utang. Langkah-langkah ini membantu menstabilkan biaya bunga dan menekan pengeluaran operasional, sekaligus memulihkan kepercayaan investor.
Hasilnya terlihat jelas di pasar saham. Dalam tiga tahun terakhir, harga saham Carvana melonjak lebih dari 10.000 persen. Pada penutupan perdagangan terakhir, saham perusahaan berada di kisaran USD 400 per lembar, jauh melampaui harga saat pertama kali melantai di bursa.
Masuknya Carvana ke dalam S&P 500 menjadi simbol perubahan drastis persepsi pasar terhadap perusahaan tersebut. Dari saham yang nyaris tak bernilai, Carvana kini berdiri sejajar dengan 500 perusahaan besar di Amerika Serikat, sekaligus menjadi pengingat bahwa restrukturisasi yang tepat dan momentum pasar dapat mengubah nasib sebuah perusahaan secara ekstrem.

