WordPress kembali menarik perhatian komunitas pengembang setelah memamerkan kemajuan signifikan dari Telex, sebuah alat eksperimen berbasis kecerdasan buatan yang dirilis pada September lalu. Dalam gelaran tahunan State of the Word yang berlangsung di San Francisco pada Selasa, co-founder WordPress sekaligus CEO Automattic Matt Mullenweg menunjukkan berbagai contoh penggunaan Telex yang sudah diterapkan dalam lingkungan kerja nyata.
Telex dirancang sebagai alat bantu yang memungkinkan pengembang menghasilkan Gutenberg block secara cepat melalui instruksi berbasis bahasa natural. Gutenberg block adalah komponen inti yang menyusun tampilan WordPress, mencakup teks, gambar, kolom, hingga elemen interaktif lain. Mullenweg pernah menggambarkan Telex sebagai versi awal dari konsep vibe coding yang diadaptasi khusus untuk WordPress pada era AI.
Meski masih berstatus sebagai proyek eksperimental, demo yang ditampilkan menunjukkan bahwa Telex sudah dimanfaatkan untuk membuat berbagai fitur yang sebelumnya membutuhkan pengembangan khusus. Salah satu contohnya adalah alat perbandingan harga yang dibangun oleh kreator komunitas Nick Hamze. Mullenweg menjelaskan bahwa elemen web interaktif seperti ini biasanya memerlukan pekerjaan kustom yang memakan waktu serta biaya, namun kini dapat dibuat hanya dalam hitungan detik melalui Telex.
Demo lain memperlihatkan bagaimana Telex dapat menambahkan jam operasional toko secara real time, nomor telepon, hingga tautan rute menuju lokasi yang langsung tertanam dalam header sebuah situs WordPress. Telex juga digunakan untuk membuat carousel logo mitra bisnis, alat kalkulasi harga, integrasi dengan Google Calendar, serta tata letak grid untuk tampilan postingan di halaman depan yang memiliki tinggi kartu seragam.
Menurut Mullenweg, kemampuan ini membuka peluang besar bagi pengguna non-teknis, karena berbagai fungsi yang dulu membutuhkan jasa pengembang kini dapat dirancang sederhana dan efisien langsung melalui browser. Ia menilai perubahan ini sebagai lompatan besar dalam pengembangan situs.
Salah satu contoh menarik datang dari Tammie Lister, pengembang yang membuat satu Gutenberg block setiap hari sepanjang Oktober. Ia menghasilkan berbagai karya kreatif termasuk versi ASCII dari permainan Tetris yang bisa dimainkan serta block khusus bertema Halloween. Keberhasilan ini memperlihatkan bahwa Telex bukan hanya alat produktivitas, tetapi juga mampu mendukung proyek kreatif dan eksperimental.
Dalam percakapan melalui email, Hamze menegaskan bahwa kekuatan terbesar Telex adalah kemampuannya memberdayakan pengguna biasa. Ia mengaku tidak memiliki latar belakang pemrograman, namun dapat membuat fungsi kompleks cukup dengan mendeskripsikannya kepada Telex. Menurutnya, selama alat ini dianggap sebagai perangkat khusus pengembang, banyak orang akan melewatkan potensi sebenarnya yang mampu membuka akses kreasi digital untuk semua kalangan.
Di luar Telex, WordPress juga memperkenalkan inisiatif AI lainnya seperti Abilities API dan MCP adapter. Abilities API berfungsi mendefinisikan kemampuan WordPress agar mudah dipahami oleh sistem AI, sedangkan MCP adapter membuat kemampuan tersebut bisa dimanfaatkan oleh alat lain yang kompatibel dengan MCP, termasuk Claude dan Copilot. Pola ini memungkinkan WordPress terhubung ke berbagai platform AI tanpa perlu membangun integrasi satu per satu.
Mullenweg menambahkan bahwa banyak pengembang sudah mulai memakai AI dalam kegiatan harian mereka melalui alat seperti Cursor, Claude Code, dan CLI generasi baru. Dengan dukungan ini, mereka dapat melakukan refactoring proyek, menelusuri basis kode, mengeksekusi skrip, hingga mengotomasi tugas menggunakan WP CLI dengan bantuan agen AI.
WordPress juga berencana menetapkan benchmark dan evaluasi khusus pada 2026. Langkah ini bertujuan menyediakan standar yang dapat digunakan model AI untuk menguji kemampuannya dalam menyelesaikan tugas berbasis WordPress seperti mengubah plugin, mengedit konten, atau mengoperasikan antarmuka melalui agen browser.
Kemajuan ini memperlihatkan ambisi WordPress dalam memposisikan diri sebagai platform yang siap menyambut era pengembangan berbasis kecerdasan buatan. Artikel ini diperbarui setelah mendapat komentar tambahan dari Hamze.

